Sabtu, 30 April 2011

Rumah Mumi


Gereja tua, rumah bagi para mumi di Italia.


Ada enam orang pastor terbaring di bawah sebuah katedral abad ke-15 di Novara, Sisilia. Masih ada 50 mumi di Piraino dan Savoca. Selain itu, hampir 2000 mumi terdapat di Palermo Italia.
Mumi, sebuah bukti kehidupan manusia di masa silam. Demi mendapatkan “kehidupan” yang lebih lama, mereka pun sengaja diawetkan. Seperti yang kita ketahui, Piramida menjadi sarang bagi para mumi. Mereka diawetkan menggunakan balutan kain, serta dimasukan kedalam peti khusus. Tak tanggung-tanggung, umur mereka bisa mencapai ratusan bahkan ribuan tahun.
Umumnya, para mumi itu ialah bekas dari orang-orang khusus kerajaan. Kebera
daan mereka menjadi perlambang, betapa sakralnya kehidupan di masa lampau. Konon, mumi adalah hukuman bagi orang-orang yang dikutuk.
Selain di Piramida Mesir, masih terdapat ribuan mumi tersebar di berbagai dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia, mumi dimiliki oleh suku Asmat. Berbeda dengan yang lainnya, di Italia mereka di tempatkan di gereja. Jumlahnya konon mencapai ribuan orang.
Mereka, para mumi Italia ditempatkan dalam posisi berdiri di tembok gereja. Beberapa diantaranya di gantung menggunakan kawat dengan kepala menunduk. Berbeda dengan mumi di Mesir, mumi Italia mengenakan pakaian mahal dan bagus. Hal ini justru malah menimbulkan sensasi berbeda bagi yang melihatnya.
Anehnya, mereka ditempatkan di gereja. Umumnya gereja tua peninggalan pemerintahan Italia. Disana kita dapat melihat mereka dengan kondisi yang sudah tak lagi utuh. Rahang terbuka menampilkan gigi-gigi yang sudah membusuk. Sebagian besar matanya sudah hilang, kulitnya terkelupas, serta ruas jari tangan yang mulai copot.
Tidak setiap mayat mengering, sebagian ada yang busuk. Maka mayat yang awet itu menjadi isyarat adanya campur tangan Tuhan. Seperti mumi para pendeta, banyak warga Italia yang percaya jika mayat ini telah di awetkan Tuhan untuk mempertebal imannya. Apakah untuk mempertebal iman seseorang harus di awetkan? Lalu untuk apa penguburan?
Sebuah katedral peninggalan abad ke-15 di Novara, Sisilia mempunyai enam orang mumi. Konon itu adalah mumi tertua disana. Seorang rahib, Silvestro da Gubbio, meninggal pada tahun 1599. Pastor menjadi orang penting bagi umat Kristiani. Untuk mengingat kembali jasa-jasanya, jenazah mereka diawetkan. Kejadian ini sangat popular pada abad ke 15-16. Setelah ditemukannya suatu ramuan yang dapat membuat mayat dapat tahan lebih lama.
Di bawah altar gereja terdapat sebuah mumi seorang pendeta. Konon tempat ini menjadi tempat favorit bagi para mumi. Muncul anggapan jika semakin dekat dengan altar, maka mumi akan mendapat perlindungan lebih dekat dengan Tuhan. Tempat ini semakin diminati sebagai tempat penguburan. Seiring berjalannya waktu, tak hanya para pastor atau rohaniawan saja yang di awetkan. Tetapi merambah pada penduduk-penduduknya.
Pengeringan dan pengawetan mayat di Sisilia merupakan sebuah fenomena unik di Eropa. Di Barat, umumnya mayat disembunyikan didalam peti dan tanah. Namun di Sisilia, jasad-jasad mereka seperti dibiarkan terus hidup. Hubungan yang mati dan hidup akan terasa kontras. Keinginan manusia untuk hidup lama, setidaknya dapat bertahan lama menjadi keinginan banyak masyarakat Italia pada waktu itu.
Pengawetan jasad para pendahulu dilakukan di berbagai tempat, tetapi tak ada yang menyamai di Sisilia. Praktik pengawetan jenazah merupakan sejarah dari Kristen kuno. Dimana kepercayaan terhadap kekuatan ghaib dari mayat masihlah sangat kental. Tuhan menjadi kekuatan mutlak bagi mereka.
Di Savoca, mumi-mumi itu ditempatkan disebuah biara kuno abad pertengahan lalu. Biara itu terletak di puncak bukit, yang menaungi desa kecil dibawahnya. Disini terdapat setidaknya dua lusin mumi. Mereka hanya dijaga oleh dua orang biarawati dari India. Mumi-mumi itu diletakan di dalam sebuah peti kemas dari kayu.
Mumi-mumi itu sedang diteliti oleh tiga orang ilmuwan. Namun hanya satu orang saja yang berasal dari Italia. Mereka mencari sumber informasi yang nantinya akan menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Mereka tak merasa takut atau jijik, yang mereka takutkan adalah merusak keutuhan mumi itu sendiri.
Sedikit demi sedikit, berkas-berkas dikumpulkan. Berbagai serpihan kulit dan tulang menjadi hal yang peting. Tak jarang, mereka mengangkat mumi dari petinya hanya untuk mengeceknya saja. Kali ini yang mereka teliti ialah mumi dari seorang pastor. Dari mumi itu, mereka mendapat sebuah kantong tipis dari kulit kering yang berbubuk. Rupanya itu adalah buah zakar si pastor. Belum diketahui kenapa buah zakarnya di copot, hal ini mungkin erat kaitannya dengan penyakit.
Dengan meneliti dan mempelajari mumi ini, mereka akan mendapatkan sejumlah pengetahuan kehidupan masyarakat Italia di masa lampau. Telah diketahui sebelumnya, berbagai jenis penyakit seperti sifilis, kolera, malaria, dan TBC menjadi penyakit serius disana.  Mereka memeriksa tinggi mumi, usianya, tulang, dan gigi-gigi mumi.
Didalam salah satu perut mumi, di dapatkan telah hilang jaringan lembutnya. Perutnya di gantikan oleh kain rombeng dan dedaunan. Hal ini mungkin digunakan untuk menghilangkan bau busuk organ perutnya. Tetapi tetap saja tidak manjur, bahkan didalam perutnya sempat ditemukan daun salam.
Didalam sebuah peti yang dibuka, tercium aroma teh. Teh ini bukan sembarangan teh, beef tea ialah teh dari Inggris berbahan daging sapi. Bau lainnya yang ikut tercium berasal dari abu si mumi. Bau ini begitu khas, terasa dramatis dan sekaligus menyeramkan. Nampaknya, alunan doa menyertai hawa disekitar peti.
Peti-peti mayat itu hanya baru beberapa kali dibuka selama berabad-abad. Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh membukanya, salah satunya adalah para peneliti. Sejumlah mumi memang sengaja diletakan diluar peti. Mereka-mereka itu para pastor atau rohaniawan. Mereka diposisikan sedemikian rupa, berdiri disamping tembok dengan lampu penerangan. Terlihat seperti sebuah dekorasi artistik horor.
Disini di Piraino, masyrakat berkunjung untuk mendoakan saudaranya yang telah menjadi mumi. Tak jarang pula yang datang karena penasaran. Beberapa diantaranya mengambil foto untuk kemudian dijual, padahal sudah terdapat larangannya. Ditakutkan, penunggu di tempat ini tidak senang dan membawa keburukan.
Covento dei Capuccini, tempat bagi sebagian besar mumi Italia. Para mumi diletakan di sepanjang lorong bawah tanah gereja. Mereka menyebutnya dengan katakomba. Terdapat ribuan mumi beristirahat disini. Mereka diletakan berjejer, ada yang di dalam peti dan ada juga yang di luar peti. Yang di luar peti lebih menakutkan, karena hanya dibiarkan menggantung di atas tembok. Lorong sepanjang 50 meter ini, sanggup menampung lebih dari 1000 mumi.
Bayangkan saja jika anda, malam-malam berjalan sendiri di dalamnya. Terlihat wajah-wajah para mumi yang menyeringai. Seperti mengisyaratkan kepedihan di akhir hidupnya. Beberapa katakomba (sebutan mumi disana), sudah tinggal tulangnya saja. Hanya pakaiannya saja yang masih setia menutupinya. Sepintas mirip boneka, ketimbang mumi.
Biara ini sudah sejak tahun 1700-an, dijadikan sebagai salah satu akses berkunjung para wisatawan. Wisatawan hanya perlu membayar sekitar Rp 20.000 untuk dapat menyaksikan beragam mumi. Dananya akan disumbangkan kepada para fakir miskin.
Ada satu mumi yang menjadi primadona disana, namanya Rosalia Lombardo. Mumi yang umurnya sudah 90 th ini dikatakan sebagai semacam setengah dewi, “malaikat kecil yang ajaib”. Pasalnya hampir semua tubuh Rosalia utuh, bahkan bulu matanya pun masih terpasang rapi di mata kecilnya itu.
Ia begitu terlihat cantik dan menggemaskan, dengan bando sutra dikepalanya. Kulitnya tak sama sekali rusak, ia juga tak berbau. Rosalia bahkan tak nampak seperti mumi, ia lebih dilihat seperti boneka.  Keasliannya begitu mengagumkan, semakin menegaskan bahwa hidup itu dekat dengan kematian, mengganggu dan menghantui.
Ia dikatakan sebagai kekuatan dari Tuhan. Padahal sebenarnya, Rosalia merupakan proyek pengawetan jasad yang lebih modern. Prosesnya menggunakan bahan kimia, yang di suntikan di beberapa bagian tubuhnya.
Rosalia meninggal tahun 1920, kala itu ia baru berumur dua tahun. Penyakit kanker darah dan radang paru-paru, membuatnya harus meninggal lebih awal. Berasal dari keluarga kaya, ayahnya meminta  orang untuk mengawetkannya. Di tunjuklah Alfredo Salafia, seorang pembalsem terkenal di Palermo. Maka Alfredo, memberikan teknik pengawetan terbaiknya.
Bisa dilihat sekarang, “Bella” (panggilan Rosalia) terlihat seperti baru kemarin meninggal. Bahkan pernah dilakukan penelitian terhadapnya. Setelah di rontgen dengan sinar x, organ tubuhnya masih utuh dan tidak membusuk.
Sebenarnya, kebanyakan mumi-mumi di Italia lebih di sebut pengeringan ketimbang pengawetan. Dulu, orang yang baru meninggal dibaringkan di dalam kamar yang disebut saringan. Di sediakan tanah liat di atas saluran air, sebagai aliran cairan tubuh yang perlahan-lahan akan mengering. Setelah delapan bulan hingga setahun, tubuh-tubuh itu dicuci dengan cuka. Di kenakan pakaian terbaiknya, kemudian baru ditempatkan di dalam peti atau digantung di atas tembok.
Belakangan baru diketahui rahasia di balik pengawetan Rosalia. Dari catatan Alfredo Salafia, terungkap bahwa ia menyuntikan zat-zat kimia ke tubuh Rosalia. Diantaranya formalin, garam seng, asam salisilat, alcohol, dan gliserol. Formalin bekerja membunuh bakteri penyebab membusuknya daging. Alcohol berfungsi untuk mempertahankan mayat Rosalia agar tetap kering. Gliserol mencegahnya untuk terlalu kering, sedangkan asam salisilat mencegah pertumbuhan jamur. Yang terakhir adalah garam seng, yang berfungsi membuat kaku. Agar mudah untuk diletakan dimana saja. [nurul] dikutip dari national geographic.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar